• +628222**22**2
  • irmanabilah5@gmail.com

Tag Archive fluktuasi

Cinta itu Fluktuasi

Cinta itu Fluktuasi

Jadi gini, apa sih yang membuatmu jatuh cinta sama seseorang?

Matanya? Senyumnya? Jaket levisnya? Honda civicnya? Tingkahnya yang kekanak-kanakan? Atau malah gayanya yang sok jagoan?

Aku punya seorang teman, dia cukup, ralat sangat “pemain” (tau kan maksudnya apa). Di suatu siang yang cerah tiba-tiba dia menelponku. Dia bercerita tentang hubungannya yang baru saja kandas dengan kekasih tiga minggunya. Dia tertawa, merasa diberkati dan tidak terlihat tersakiti seperti orang kebanyakan yang baru saja putus dengan kekasihnya.

“Kok bisa putus sih?”
“Dia suka hisana, aku suka cfc”
“Ha? Maksudnya?!”
“Duh bil, ya pokoknya kita sudah ngerasa gak cocok aja”

Damn it.
Aku tau dia sudah bosan dengan kekasihnya itu.

Tapi ya berkat ceritanya itu juga sih aku jadi kepikiran suatu pertanyaan yang selama ini belum pernah hadir dalam otakku.

Sebenernya, cinta itu apa sih?

Gimana bisa seseorang mengklaim dirinya mencintai seseorang lalu tiga minggu kemudian memutuskan bahwa selera ayam goreng mereka gak sama (temanku suka hisana, pacarnya suka cfc) dan akhirnya berpisah. Apakah cinta se fluktuasi itu???

Oke, di poin yang berbeda,

Jaman modern ini khususnya, mau gak mau kita harus menyetujui bahwa disetiap status “😭”-nya cewek selalu ada cowok yang komentar “Kenapa?” atau “Lagi ada masalah ya?” atau “Sini cerita sama aku”

Lalu ceweknya jawab dia baru putus dengan kekasihnya, dalam hati si cowok menjawab ini kesempatan. Tak banyak pikir malam itu juga si cowok mengajak si cewek keluar sehingga si cewek bisa bebas bercerita, dengan modal “Sabar ya,” ditambah bumbu, “Masih ada banyak cowok lainnya kok yang mau sama kamu,” yang membuat si cewek menatap si cowok tiga detik lamanya, lalu si cowok berpikir ini adalah waktu yang tepat, kemudian ia melengkapi serangan dengan, “Kaya aku misalnya,” sebagai penutup.

Fix, seminggu kemudian mereka jadian.

Iya memang tidak semua cewek/cowok begitu, tapi selalu ada. Kuulangi SE-LA-LU-A-DA.

Jejaknya berkeliaran di dunia per-whatsapp-an dan per-instagram-an, yang kalau lagi bertengkar sama pacarnya hapus dp whatsapp dan kalau resmi putus sama pacarnya ia delete semua foto berdua di instagram sambil membuat klarifikasi Alasan Kita Putus.

Apakah cinta masih se-fluktuasi itu?

Kita lanjut, setelah jadian berikutnya kita akan dibawa ke keadaan yang katanya bikin hubungan makin langgeng.

Apa? Hm, apa?!

Pas ceweknya chat bilang laper terus cowoknya dateng sambil bawa martabak?
Atau pas ceweknya telpon bilang kangen terus cowoknya dateng bawa seperangkat alat sholat (baca: bunga), iya gitu?

Tidak semua situasi bisa melahirkan cinta, dua hal diatas bikin kantong cowok kering dan cewek yang baik harusnya gak gitu-gitu amat. 

Kejebak hujan ditengah jalan, itu musibah.
Pas anniversary bawa kado boneka segede orang itu bukan romantis tapi bikin bangkrut.
Memakai baju kembar di suatu acara itu malu-maluin. Apalagi kalau ada yang nanya “Dari panti mana?”. Plak 🙁

Kembali ke pertanyaan diatas, sebenernya cinta itu apa sih?

Beberapa menit yang lalu temanku kembali telpon, tanpa basa-basi dia bertanya,
“Bil, menurutmu cinta itu apasih?”
Sepuluh detik aku terdiam, lalu kujawab sekenanya, “Cinta itu ketika kamu mau memberi kulit ayam ke pasanganmu dengan ikhlas”
“Aku serius,”
Lah dikira aku sedang bercanda atau bagaimana, “Aku juga serius. Kulit ayam adalah hal yang spesial, memberinya ke orang lain tidak bisa dilakukan semua orang dengan ikhlas,”
Dia tertawa, “Nenekku sering memberiku kulit ayamnya, beliau gak boleh makan itu karna takut kolesterol,” aku memutar otak, mencari jawaban lain.

“Cinta itu ketika kamu tidak mau kehilangan seseorang diluar keluargamu,” aku menjawab lebih serius.
“Aku tidak mau kehilangan Epi, Bisul, Pindang, Paklek, Buklek, Chu, Zi,” dia menyebutkan nama teman-temannya. “Apa itu yang dimaksud aku cinta mereka semua?”

Hmm.
“Cinta itu ketika kamu ikutan seneng pas lihat dia seneng tapi juga ikutan sedih setiap kali lihat dia sedih,” aku mencoba jawaban lain.
“Aku seneng pas bisul jadi juara lomba nyanyi, aku juga sedih pas ibunya buklek meninggal,”
Fix. Aku tidak tau lagi harus jawab apa, kukira aku tau segalanya tentang cinta, but I’m not.

Akhirnya aku pergi ke kamar mandi (taulah ya, kamar mandi adalah tempat mencari inspirasi terbaik), aku merenung selama beberapa saat sampai akhirnya aku merasa bahwa…

Cinta itu fluktuasi, titik.

Kadang diatas, kadang juga dibawah. Kadang kamu mencintainya, kadang juga membencinya saat dia membuat kesalahan namun dengan setangkai bunga amarahmu bisa saja luntur.

Ini mungkin sedikit kontroversial, tapi bukankah sebenarnya cinta gak membutuhkan alasan? I mean, kalau kamu suka ya sudah suka aja.

Entah dia ganteng, jelek, kaya, miskin, ya sudah suka aja. Gak peduli seleranya hisana atau cfc, harvest atau holland, warkop atau wifi.id selagi kalian saling mencintai kalian juga pasti bisa saling memaklumi perbedaan.

Cinta itu ketika kamu tidak mengharapkan namamu ditulis di bio instagramnya atau di chat setiap hari. Diberi kabar ya syukur tidak diberi kabar yaudah lah mungkin dia sibuk. Entah sibuk nugas, main sama temen atau mencari pasangan lain. Biarkan saja, toh kalau jodoh juga bakal balik.

Cinta itu sesederhana,
“Aku percaya kamu, kamu percaya aku. Masalah selesai” 

Lagipula ini bukan tentang siapa yang bakal jadi prioritas, kita sama-sama sedang banyak aktivitas. Gak usah punya pikiran kalau dia gak bales chatmu berarti kamu bukan prioritas, mungkin dia hanya ingin menikmati waktunya sendiri tanpamu.

Gak perlu harus dinner di restoran mahal dengan bunga dan alunan musik klasik untuk menyatakan cinta apalagi di kamar hotel dengan balon balon di atap serta rangkaian nama yang diukir di dinding ketika lagi anniversary (bikin orang mikir negatif aja), cukup yang sederhana selama kalian bisa merasa nyaman.

Cinta itu fluktuasi, benar adanya.
Tapi sebagai seseorang yang dewasa, ngapain sih harus ngikutin alur dan dikit-dikit kebawa mood. Just make it clear! 🙂