zetazka pergi - tomatku, milikku
Writings

Zetazka – Tomatku, Milikku [Writings]

Tomatku, Milikku

“Kemarin aku mimpi kamu pergi.”

“Pergi? Kemana?” tanya Azka tanpa melepaskan matanya dari ponsel yang sedari tadi ia mainkan.

Zeta mengingat-ingat mimpinya semalam. Ia terdiam cukup lama sampai Azka harus menoleh ke kiri –ke tempat Zeta berada, untuk memastikan bahwa wanita itu masih disampingnya. “Kemana?” ulang Azka.

“Ingatanku samar, yang jelas ada seorang wanita cantik menjemputmu dan kamu pergi bersamanya,” jawab Zeta.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Azka.

Zeta mengangkat alisnya tidak mengerti, “Perasaanku?”

“Iya. Pe-ra-sa-an-mu.”

Zeta terdiam. Ia menimbang-nimbang jawaban yang pas.

“Rasanya seperti durian,” jawab Zeta asal setelah ingat bahwa selama perjalanan menuju ke tempat ini mereka melewati banyak penjual durian.

“Memang seperti apa?”

“Kau tak tau rasanya durian?”

“Tak tau bagaimana rasanya bagimu.”

Zeta tertawa, ia tidak pernah bisa menang dari Azka, “Oh, baiklah. Rasanya tidak enak, asam, pahit dan membuatku ingin muntah.”

“Jadi kau tak suka durian ya?”

“Tentu saja!”

“Berarti kau juga tak suka melihatku pergi bersama wanita lain?”

Azka tersenyum melihat wajah Zeta merona. Zeta menatapnya –senyum Azka semakin mengembang. Melihatnya ia jadi teringat bunga edelweis saat mekar, yang membuatnya jadi ingat dengan gunung, yang membuatnya kembali teringat lagi dengan Azka.

Ah.. Azka.

Zeta suka sekali menyebut nama itu. Rasanya tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mempunyai nama seindah nama Azka.

“Zeta lihatlah! Wajahmu merona sekali. Kamu terlihat seperti buah tomat,” Zeta memalingkan wajah dari Azka.

“Tidak,” jawab Zeta, “Aku tidak mau seperti buah tomat!”

“Loh, bukan sekedar tomat biasa,” Azka mengambil sebotol air mineral yang sedari tadi dipegang Zeta. Azka membuka tutup botolnya dan meminum tepat di bekas Zeta tadi meminumnya. Ew, menjijikan. Sebelum Zeta sempat protes, Azka melanjutkan, “kamu akan kujadikan tomatku. Milikku.”

Azka mengembalikan botol air mineral tadi kembali ke tangan Zeta.

“Bagaimana? Apa kamu suka menjadi tomatku?”

Zeta terdiam. Ia kehabisan kata-kata, ia sedang berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Azka mengusap puncak kepalanya, “Percayalah Zeta, semalam kamu cuma mimpi. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu.”

24/07/2020

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *