Sepenggal Kisah Tentang Brian
Writings

Sepenggal Kisah Tentang Brian [Writings]

Selesai sudah, -kuakui aku tlah kalah.

Kau mengintip lewat jendela dan aku merapat ke tembok. Walau terhalang kaca tipis yang penuh debu, wajahmu tetap terlihat manis. Kau berjalan mundur lalu bersandar di pintu kelasku yang terbuka. Aku berusaha terlihat santai, walau dalam hati ku ingin terbang ke angkasa.

“Kamu ngapain di kelas sendirian?” tanyamu. Aku menoleh ke sekeliling kelas berusaha mencari alasan yang tepat. Tidak mungkin kan aku jujur bahwa sedari tadi aku menunggumu lewat? Bisa mati gaya aku nanti.

“Habis nyalin tulisan di papan. Keasikan ngobrol sama Indri sampai ketinggalan nulisnya, padahal lusa ujian,” jawabku sekenanya. Harap-harap cemas semoga kau tidak bisa mendeteksi kebohonganku.

“Oh gitu..” balasmu mengangguk-angguk seolah percaya. Kau berjalan masuk ke kelas, menghampiriku. Saat itu juga lututku lemas, rasanya sudah tidak bisa dipakai lagi. Aku balik badan, mencari kursi, “Aku kira kamu lagi nungguin aku lewat.”

Deg.

Mati aku.

Baru saja lututku lumpuh dan sekarang kau buat lidahku kelu. Kau menyandarkan punggungmu di ujung papan, mungkin hanya sekitar satu setengah meter jauhnya dariku. Aku mengibaskan tanganku, berusaha tetap tenang, “Hahaha, enggak lah Bi,” oh Tuhan, suaraku parau.

Kau menatap mataku lekat, siap menggodaku, “Yah, aku kecewa. Padahal aku kira kamu nungguin aku,” jawabmu. Aku keringat dingin. Memang benar kata teman-teman, menipu Brian yang notabene siswa terpandai (yang sangat kusukai) di sekolah memang bukan hal yang mudah. Terutama setelah pesan yang kau kirim padaku semalam.

Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi disini.

“Hmm.. Aku pulang duluan ya,” pamitku padamu. Tidak peduli aku sudah di jemput atau belum, paling tidak aku harus segera pergi dari hadapanmu sebelum aku mati kehabisan nafas.

Kau tersenyum lebar lalu melambaikan tangan, “Hati-hati ya Bil.”

Aku hanya mengangguk dan menunduk sembari menyembunyikan pipiku yang tengah merona. Saat berjalan melewatimu tiba-tiba aku teringat pesan yang kau kirimkan padaku semalam.

Bil, aku suka kamu. Dari dulu malah.
Tapi sekarang kamu fokus belajar buat ujian aja, nanti kalau sudah ujian baru fokus balas perasaanku, hehe.

6 tahun kemudian, aku kembali teringat. Tepatnya hari ini, aku bertanya-tanya.

Bi, kenapa kamu tidak bilang jika itu akan menjadi pesan terakhirmu?

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *